Achmad Yurianto: COVID-19 Faktor Pembawa Orang, Bukan Zonasi :: Nusantaratv.com

Achmad Yurianto: COVID-19 Faktor Pembawa Orang, Bukan Zonasi

Virus Corona Akan Memperburuk Daya Tahan Tubuh dan Menyebabkan Peluang Penyakit Dasar yang Sudah Dimiliki Menjadi Makin Parah. 
Achmad Yurianto: COVID-19 Faktor Pembawa Orang, Bukan Zonasi
Achmad Yurianto, Juru Bicara (Jubir) Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona. (Jay/Dok. Humas Setkab)

Jakarta, Nusantaratv.com - Achmad Yurianto, Juru Bicara (Jubir) Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, mengatakan COVID-19 faktor pembawanya yakni orang, bukan daerah. Dengan begitu, ungkap Yuri, sapaan akrabnya, maka tidak memiliki arti keterkaitan dengan sebuah daerah atau wilayah, sehingga tidak akan dibuat zonasi.

"Kalau selama ini penjelasan yang diberikan tidak menyebut lokasi karena memiliki perbedaan dengan misalnya malaria atau DBD, maupun penyakit-penyakit yang ada basisnya. COVID-19 ini bergerak bersama pergerakan orang," ungkap Yuri, terkait tidak diumumkannya lokasi asal para pasien COVID-19, dilansir dari setkab.go.id, Kamis (12/3/2020).

Mengenai fasilitas di daerah, pria yang juga menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menyebut saat ini sedang mencoba membangun komunikasi antara kabupaten maupun provinsi karena buffer (penyangga) Kemenkes ada di instalasi farmasi provinsi.

"Jadi kemarin itu tidak terkait dengan fasilitas tetapi dengan sarana, kekurangan APD, masker dan sebagainya sudah kita penuhi, namun berada di provinsi tidak kita dorong sampai pada titik itu," lanjutnya.

Hingga kini, dia mengungkapkan pasien yang telah dipulangkan lebih dari 20 orang dari seluruh rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia. Jadi bukan hanya di RS yang ada di sini, serta dengan spesimen yang diperiksa total sampai dengan pagi tadi, yakni 736. 

Baca Juga: Menparekraf Dukung Penyampaian Informasi Satu Pintu Terkait Wabah Virus Corona

"Tentunya nggak semuanya positif. Tapi itu yang sudah kita periksa. Kemudian yang 27 tracing-nya masih dilaksanakan terus, tetapi kontak dekatnya keluarga dan sebagainya sudah kita pastikan beberapa kali kita periksa negatif," tambahnya.

Kendati proses tracing (melacak) sulit, namun diakuinya, jika hal tersebut harus dilakukan. Di sisi lain, terkait vaksin, dia menyebut Eijkman Institut sudah fokus ke sana dan Pemerintah mendukung hal itu.

Dengan begitu, maka bisa berkonsentarsi penuh bersama dengan penyakit tropis dari Unair (Universitas Airlangga).Jadi mengarah kepada membangun atau mencari vaksin. 

Sementara itu, untuk ABK (Anak Buah Kapal) yang dalam masa observasi, menurut Yuri, berdasarkan hitungan pada Kamis (12/3/2020) sudah 14 hari sehingga akan dipulangkan. 

"Tentunya untuk pulang ada pemeriksaan kesehatan total, evaluasi total, setelah itu pulang. Jadi tidak kemudian dilepas begitu saja. Ini sudah menjadi SOP kita di dalam kaitan dengan hal ini," tuturnya. 

Dia juga menyatakan virus corona akan memperburuk daya tahan tubuh dan akan menyebabkan peluang penyakit-penyakit dasar yang sudah dimiliki menjadi makin parah. 

"Ini tidak pernah kita dapatkan meninggal karena corona virus sendiri selalu adalah komplikasi. Beberapa kasus yang kita pelajari dari kasus meninggal di beberapa negara itu biasanya karena sepsis. Sepsis itu infeksi keseluruhan di pembuluh darahnya dan sebagainya yang disebabkan karena bakteri, bukan karena virusnya," urainya. 

Daya tahan tubuh yang jelek, terang Yuri, membuat bakteri semula tidak menimbulkan penyakit, maka akan menjadi masalah dengan tidak bisa dikendalikan populasinya, sehingga menjadi masalah atau sepsis. "Jadi bukan karena virus corona sebagai penyebab utama, tapi itu yang memperburuk kondisinya," tukas Yuri.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0